Tentang UNUSA
UNUSA: Lahir, Berlari Cepat, dan Menatap Tantangan Masa Depan Pendidikan Tinggi
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) adalah salah satu perguruan tinggi yang berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Berdiri resmi pada tahun 2013 dari transformasi STIKES YARSIS, UNUSA telah menorehkan prestasi luar biasa dengan meraih akreditasi “Unggul” dari BAN-PT hanya dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun. Pencapaian ini sangat jarang terjadi, mengingat hanya sekitar 1,8% perguruan tinggi di Indonesia yang mampu meraih peringkat tersebut. Tidak hanya itu, sebanyak 75% program studi UNUSA kini telah terakreditasi Unggul, dan beberapa prodi bahkan menjadi pelopor, seperti S1 Gizi yang tercatat sebagai program studi swasta pertama di Indonesia dengan akreditasi Unggul dari LAM-PTKes. Kecepatan dan kualitas yang diraih ini menunjukkan strategi manajemen pendidikan yang terarah dan komitmen kuat terhadap mutu akademik.
Di sisi lain, UNUSA juga telah membangun fondasi akademik dan infrastruktur yang mendukung keberhasilan tersebut. Dengan 20 program studi yang tersebar di lima fakultas, UNUSA melengkapi diri dengan fasilitas pembelajaran modern seperti laboratorium kedokteran, K3, microteaching, smart class, hingga akses ke dua rumah sakit pendidikan yang menjadi keunggulan dibanding banyak PTS lain di Surabaya. Kurikulum Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM) serta penerapan mayor-minor system semakin memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, sekaligus membekali mereka dengan kompetensi tambahan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Kehadiran infrastruktur dan kebijakan akademik yang progresif ini membuktikan bahwa UNUSA tidak hanya fokus pada pencapaian administratif, tetapi juga pada penguatan kualitas pembelajaran di tingkat akar.
Lebih jauh lagi, UNUSA layak diapresiasi atas keberpihakan dan kepekaannya dalam memberikan akses pendidikan. Dengan berbagai skema beasiswa, mulai dari beasiswa penuh hingga beasiswa prestasi, UNUSA membuka jalan bagi mahasiswa dari latar belakang ekonomi beragam untuk tetap bisa menempuh pendidikan tinggi. Catatan lain yang membanggakan adalah prestasi mahasiswa dan dosen dalam ajang akademik maupun non-akademik. UNUSA pernah tercatat sebagai perguruan tinggi swasta di Jawa Timur dengan jumlah beasiswa terbanyak, dan mahasiswa-mahasiswanya aktif menorehkan prestasi di Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), lomba kesehatan, maupun riset-riset inovatif. Kombinasi antara inklusivitas akses pendidikan dan pencapaian prestasi ini memperlihatkan bahwa UNUSA tidak hanya membangun reputasi, tetapi juga memupuk kualitas sumber daya manusianya.
Namun, di balik kemajuan pesat tersebut, UNUSA tetap menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi agar tidak stagnan. Salah satu catatan adalah keterbatasan diversifikasi program studi. Saat ini, UNUSA masih lebih dikenal dengan prodi-prodi kesehatan dan keperawatan, sementara sektor lain seperti bisnis digital, psikologi, teknologi informasi, maupun seni belum banyak dikembangkan. Padahal, untuk mewujudkan visi menjadi universitas terkemuka di ASEAN, diversitas prodi adalah faktor penting agar kampus mampu menjangkau lebih banyak minat dan kebutuhan masyarakat. Selain itu, capaian riset dan publikasi ilmiah yang dihasilkan dosen dan mahasiswa masih kurang terekspos. Minimnya transparansi mengenai jumlah artikel terindeks nasional maupun internasional membuat reputasi akademik UNUSA berisiko tidak sebanding dengan pengakuan akreditasi yang telah diraih. Fasilitas pendukung inovasi seperti inkubator bisnis, co-working space, maupun laboratorium interdisipliner juga masih bisa dikembangkan lebih jauh.
Melihat kondisi tersebut, ada beberapa langkah yang dapat dijadikan strategi perbaikan agar UNUSA semakin kokoh di masa depan. Pertama, memperluas spektrum program studi ke bidang yang lebih beragam sehingga mahasiswa tidak hanya unggul di sektor kesehatan, tetapi juga di ranah bisnis, teknologi, dan humaniora. Kedua, memperkuat pusat riset dan publikasi dengan target yang terukur, termasuk peningkatan jumlah publikasi terindeks internasional dan pemberian insentif yang adil bagi dosen maupun mahasiswa. Ketiga, membangun fasilitas inkubasi wirausaha berbasis riset agar mahasiswa terbiasa berinovasi sejak dini dan mampu menjadi pencipta lapangan kerja. Keempat, menerapkan sistem pengawasan etika akademik yang transparan, sehingga kontribusi mahasiswa dalam penelitian diakui secara adil dan tidak menimbulkan polemik. Kelima, UNUSA juga perlu melakukan monitoring evaluasi internal yang konsisten, mulai dari kepuasan mahasiswa hingga penelusuran alumni, agar setiap kebijakan dan capaian benar-benar terukur serta dapat menjadi pijakan menuju universitas unggulan di tingkat ASEAN.
Pada akhirnya, UNUSA adalah contoh nyata bagaimana perguruan tinggi muda dapat “lahir lalu berlari” dengan cepat. Akan tetapi, kecepatan itu perlu diimbangi dengan konsistensi, diversifikasi, serta inovasi agar tidak berhenti di zona nyaman. Dengan komitmen berkelanjutan, penguatan riset, dan keberanian menjawab tantangan baru, UNUSA berpeluang besar menjadi mercusuar pendidikan tinggi yang Islami, berdaya saing global, dan benar-benar relevan dengan kebutuhan zaman.
Kunjungi juga :

Komentar
Posting Komentar